Saturday, March 21, 2009

Sitac itu....


Mulanya saya kerja diSitac, rasanya stress berat...
Setelah waktu berjalan... alhamdulillah lama-lama lumayan bisa cepat menyesuaikan.
Awal saya kerja disini, saya juga tidak tahu Sitac itu apa, kerjaannya ngapain dan apa aja yang diurusin.
Banyak temen saya yang nanya, Sitac itu apa'an sih?
Jangankan teman jauh, atau yang baru kenal, orang dalam satu perusahaan sendiri ada yang baru tahu Sitac setelah tiga tahun kerja...:D

1. Sitac itu kepanjangannya Site Acquisition & litigation
2. lebih singkatnya, Sitac berhubungan dengan tower.
3. Mengurus perpanjangan sewa lahan untuk tower, monopole, pole dsj atau gedung yang dipakai untuk kantor
4. Mencari lahan/survey bareng Teknikal untuk lokasi tower/monopole/pole dsj, juga lahan/gedung untuk kantor
5. Negosiasi sewa lahan
6. Rapat warga
7. Sosialisasi ke warga
8. mengurus segala perijinan dari warga, RT, RW, Desa, camat, Kab dan isntansi2 yang berkepentingan
9. Membuat kontrak perjanjian
10.Urusan administrasi : membuat APF, OA, Kwitansi, Infoice, BAST dan surat-surat lain

Pertama pindah bagian, saya kaget dan harus segera menyesuaikan cepat dengan ritme kerja yang banyak beda 180 derajat dg sewaktu saya di backoffice dulu, waktu kerja yang tidak menentu, tak jarang berangkat setelah subuh dan pulang menjelang pagi. Di Sitac, jadi kenal banyak orang, pejabat2, aturan2 daerah setempat, banyak jalan-jalannya karena hampir tiap hari keluar kota, mengenal macam-macam karakter orang dll.
Buat yang tidak suka kerja lapangan, tidak suka tantangan, waktu dan lokasi kerja yang tidak menentu, bisa jadi stress karena mungkin dua atau tiga masalah warga belum selesai, tidak bisa menunggu masalah lain yang mungkin harus diselesaikan waktu itu juga.




Thursday, March 19, 2009

Dikira Caleg

Kampanye Parpol sudah dimulai...
Sepanjang jalan dari Semarang menuju Kudus sudah terlihat kesibukan simpatisan parpol dijalan raya, mulai dari membagi-bagikan brosur, memasang spanduk, bendera juga kampanye :D
DiKudus, ada tiga tempat yang akan saya datangi untuk survey lokasi baru, sosialisasi dengan warga dan nego perpanjangan sewa lahan.
Ada kejadian yang membuat saya-kalau keingetan-pengen ketawa-tawa sendiri.
Begini ceritanya, siang hari itu saya mau ketempat terakhir untuk negosiasi harga perpanjangan sewa lahan BTS. Lokasinya agak terpencil memang, jauh dari kota.
Setelah janjian sebelumnya dengan pemilik lahan, kita ketemu dirumah putra pemilik lahan yang area padat penduduk.
Setelah agak lama didalam rumah, saya merasa lama-lama tidak nyaman, karena diluaran sana beberapa kali rumah diintip sama warga, dan parahnya, didepan teras ditunggui sama anak-anak kecil.
Saya nanya ke pemilik lahan, ada apa gerangan? apa ada masalah dengan kedatangan kami?
Ternyata-eh ternyata, saya dikira caleg partai yang mau bagi-bagi kaos atau merchandise. Sepanjang jalan gang sewaktu pulang juga masih terlihat warga dan anak-anak yang melambaikan tangan ke arah mobil yang saya tumpangi :D




Thursday, February 05, 2009

Antara mencoba dan berhasil

Kemarin pagi saya mendapati kata-kata bagus yang masuk melalui sms ke HP saya :
"Tugas kita bukanlah untuk berhasil.
Tugas kita adalah untuk mencoba ;
Karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil"
Masih hangat sekali di perasaan dan pikiran saya, minggu-minggu pertama saya masuk ke bagian Sitac. Stresssss...
Ngegas!! istilahnya.
Begitu masuk, saya langsung disuguhi setumpuk dokumen untuk perpanjangan kontrak sewa lahan BTS, MBTS, kompensasi warga dan surat-surat / proposal yang sudah mepet sekali dengan deadline. Tanpa training, tapi langsung learning by doing.
Hari pertama saya gelagapan. Saya harus mencari lahan untuk relokasi site yang dismantle. Selama diperjalanan, dipikiran saya hanya bagaimana saya memulai memperkenalkan diri, negosiasi dan deal.
Saya was-was betul kalau dihari pertama ini saya gagal. Tapi saya memantapkan hati saya sambil berkata, saya harus mencoba!!
Rupanya kegugupan saya terbaca oleh pemilik lahan.
"Mbak disini baru ya..."
Saya katakan dengan jujur, "Iya..."
Walaupun dihari pertama saya tidak bisa menyelesaikan satu tugas dengan tuntas, paling tidak dalam dua minggu masalah tersebut sudah bisa saya selesaikan dengan berbagai perasaan, pontang-panting, deg-degan.
Satu bulan kurang, saya sudah turun ke lapangan untuk menghadapi berbagai persoalan sendiri, untuk case tertentu saya masih harus minta bantuan untuk ditemani.
Sebelum saya memulai bekerja, disamping berdoa saya sempatkan untuk mengingat kata-kata tersebut.
Tak terasa tumpukan dokumen itu sudah berkurang...sedikit demi sedikit. Sebaliknya lembaran kosong agenda saya mendekati habis.





Monday, January 05, 2009

Ikhlas dan sabar


Senin kemarin saya pergi ke salah satu instansi untuk mengurus bukti pembayaran dan beberapa dokumen yang hilang, sebelum kesana saya sudah menghubungi via telephon pic instansi tersebut tetapi tidak diangkat, saya coba lagi tetapi masih tidak diangkat, lalu saya tinggalkan pesan via sms yang intinya saya akan datang satu jam lagi sesuai kesepakatan sebelumnya.
Sesampai di instansi tersebut, saya urungkan niat saya untuk langsung pada tujuannya; mengurus bukti pembayaran dan dokumen yang hilang. Saya tidak berani menatap beliau, raut mukanya tampak merah tanpa senyum seperti menahan marah atau mungkin hanya karena terlalu kecape'an.
Benar saja, selang beberapa menit kemudian, salah satu rekannya memanggil beliau dan sepertinya membicarakan masalah yang serius.
Cukup lama saya menunggu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya menunggu.
Setelah hampir satu jam, beliau menghampiri saya "Bagaimana mbak..." saya tidak langsung menjawab, saya menatap beliau sebentar memastikan apakah beliau memang sudah siap memberikan arahan untuk membantu saya/belum.
Setelah beliau berusaha menenangkan diri, saya lalu berniat memohon diri, karena sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengurus beberapa surat yang cukup menyita waktu kerja dan tidak bisa langsung selesai dalam tiga hari, padahal saya sangat membutuhkannya untuk digunakan besok.

Tapi, untuk berpamitan, agak sungkan juga "Maaf, Bapak sepertinya sedang dalam masalah...mungkin sebaiknya...." beliau lantas menjawab "Iya Mbak, besok jam 9 pagi mbak kesini lagi saja, hari ini saya masih banyak urusan".
Saya berusaha untuk tetap senyum dan menghela nafas...walaupun sebenarnya saya kecewa, soalnya untuk bertemu beliau lumayan tidak gampang.
"Semoga segera selesai masalahnya ya Pak..." berusaha ikhlas sambil menatap beliau sebentar, memastikan besok saya akan menemui beliau lagi. Tak disangka beliau lalu malah bercerita tentang masalah yang tengah dihadapi, walaupun agak kecewa, karena hari ini urusannya belum bisa kelar, tapi saya berusaha untuk mendengarkan dengan serius dan benar-benar ikhlas sesekali membaca astaghfirullah dalam hati untuk mengenyahkan kekecewaan saya. Tak terasa, beliau bercerita sudah 1 jam lebih lamanya, kalau tidak karena dipanggil temannya, mungkin beliau belum menghentikan ceritanya.
Sebelum beliau meninggalkan saya, beliau hanya berucap sambil tersenyum "terimakasih dan mohon maaf", saya melihat muka beliau sudah tidak seseram tadi lagi.
Lewat jam 11 malam, saya masih belum bisa memejamkan mata, memikirkan dokumen yang hilang itu.
Tiba-tiba telephon berbunyi, dari P Agus.
"Selamat malam Pak, bagaimana Pak...ada lagi persyaratan yang perlu saya tambahkan?"
Beliau hanya menjawab "Tadi saya sudah meminta tolong dengan pihak xxx untuk salinan bukti pembayaran dan dokumen Anda, besok pagi langsung bisa diambil ya mbak..."
Subhanallah, seperti disamber apa gitu...mendengar kata-kata barusan.
Mungkin inilah hikmah dari kesabaran, ketulusan dan keikhlasan dari hanya sekedar mendengarkan, walaupun sebenarnya hati kita sedang diliputi kekecewaan.
Alhamdulillah...




Thursday, January 01, 2009

Bersiap menghadapi Perubahan


Alhamdulillah...
Ditahun baru ini ada satu informasi yang mengejutkan buat saya.
Sama sekali tidak terpikir kalau saya akan pindah bagian efektif per 5 januari 2009 ini. Pekerjaan yang akan saya tangani hampir tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan saya sebelumnya.
Tiga tahun tiga bulan sudah saya berada di divisi Finance-RA, suka duka mewarnai hari-hari selama saya disana. Ada satu hal menggelikan yang tidak mudah saya lupakan. Bulan agustus 2006, saya melakukan negosiasi pembayaran via telephon dengan salah satu pegawai Bank. Seperti biasanya terlebih dahulu saya memperkenalkan diri; nama dan instansi lalu saya menelephon PSTN bank tersebut dan diterima oleh operator. Setelah disambungkan dg nama dan bagian yg saya sebut, telephon diterima langsung oleh yang bersangkutan. Setelah saya sebutkan kembali nama dan bagian yang saya tuju dan dibenarkan oleh penerima telephon, lalu kami melakukan negosiasi pembayaran. Negosiasi berjalan hampir satu jam (dan ini menjadi negosiasi terpanjang saya dibagian ini), berjalan dengan tanpa alot. Setelah beberapa kali saya memastikan kembali tentang data beliau karena nego sepertinya agak janggal, diakhir kata beliau hanya berucap "Oalah...mbak, itu Bambang yang satunya. Memang nama saya juga Bambang dan disini panggilannya Bambang. Tapi mungkin Bambang yang Mbak maksud itu Pak Bambang yang panggilannya Aji, yo wis lah Mbak, ntar tak sampaikan ke beliau, kebetulan Beliaunya sedang meeting" Glegkh...
Saya ketap-ketip saja didepan monitor setelah telephon ditutup.
Hal yang tidak mengenakkan dan sempat membuat saya drop adalah sewaktu saya "ditantang" untuk membawa permasalahan yang tengah dihadapi dg customer ke pengadilan. Tapi...seiring waktu, saya lalu sepertinya kebal dimaki-maki, termasuk kebal juga "di rayu-rayu" customer hehe...
Sekarang, Surat Penempatan Kerja saya sudah keluar, dan Bismillah...
Saya akan memulai mempelajari hal-hal baru di fungsi Frontliner, untuk posisi Site Acquisition & Litigation.