Saturday, July 30, 2016

Sisir rambut

Sisir rambut

Ukuran 22,5 x 4,5cm
Tersedia warna:
1. Merah - 1pcs
2. Biru - 1pcs

Berat: 10gram
Harga: Rp 2.000,-

Friday, July 15, 2016

Hellooo... Banjarnegara

Enggak afdhol rasanya mudik kampung halaman tanpa mencicipi dawet Ayu khas Banjarnegara.
Murah meriah, porsi 1 gelas Rp5.000,-. katanya siy kalau Hari biasa malahan Rp4.000,-

Siapa yang belum pernah mencoba??

“Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001)

Bagus...
Jadi saya copas dari grup WA kiriman Ibu Nila 😃
Ijin sharing ;

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya *"Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001)* yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi "best seller", mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang :
1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain).
Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila *lebih banyak orang menyukai* cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu.
Tidak heran pula bila *perilaku koruptif* pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yg wajar.
3. Bagi orang Asia, pendidikan *identik dengan hafalan* berbasis "kunci jawaban" *bukan pada pengertian*.
Ujian Nasional, tes masuk PT dll, semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa *diharuskan hafal* rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya *bukan diarahkan untuk memahami* kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia *dijejali sebanyak mungkin* pelajaran. Mereka *dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit- sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).*
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia *bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika, dan Matematika*.
Tapi *hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.*
6. *Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU).* Akibatnya *sifat eksploratif* sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan *keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.*
7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, *bertanya artinya bodoh*, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.
8. Karena *takut salah dan takut dianggap bodoh*, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta Asia jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya Profesor Ng Aik Kwang *menawarkan beberapa solusi* sebagai berikut:
1. *Hargai proses*. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.
2. *Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban*.
_Biarkan murid memahami *bidang yang paling disukainya.*_
3. *Jangan jejali murid dengan banyak hafalan*, apalagi matematika.
Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihafalkan?
*Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya*.
4. *Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu*, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.
5. *Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko*. AYO BERTANYA!
6. *Guru adalah fasilitator*, _*bukan dewa*_ yang harus tahu segalanya.
Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU!
7. *Passion manusia adalah anugerah Tuhan*...
sebagai orang tua kita *bertanggung-jawab untuk mengarahkan* anak kita _untuk menemukan passionnya dan mensupportnya._

_Mudah-mudahan dengan begitu, kita *bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi* tanpa korupsi_

Wednesday, July 13, 2016

Mampir ke 'Gudang Tahu'

Mudik kampung, tak lengkap rasanya tanpa makan tahu anget nan asin yang di beli langsung dari pabriknya.

Tidak tahu (tidak interview n cari tahu siy...) kapan tepatnya pabrik tahu yang oleh masyarakat lebih dikenal sebagai 'Gudang tahu' ini berdiri. Yang jelas sejak saya SD, pabrik tahu ini sudah ada.

Letaknya di tikungan merden menuju kalimendong.
Proses pembuatannya jg masih sederhana.
Tetapi citarasa dan aromanya, bagi saya tidak ada yang ngalahin.

Beli Rp 10.000,- sudah dapat 1 kresek.
Tidak ngitung jumlahnya ada berapa, tp sepertinya Rp500,-/ potong.

Mau tau rasanya?
Hmmm kira-kira begini
Gurih, asin, lapisan luarnya kalau di gigit berasa agak kryuuukk... dimakan masih hangat.

Yummmmyyyy 😋😋

Monday, July 11, 2016

Otw Banjarnegara

Alhamdulillah, setelah sehari semalam dirumah Budhe Yanti, tiba waktunya untuk ke rumah eyang Atha di Banjarnegara.

Berangkat dari rumah Budhe Yanti pukul 19.10. Bismillah, otw Nganjuk - Banjarnegara. Semoga lancar.

22.30 sampai Ngawi
00.00 sampai Sragen
04.30 sampai Boyolali
04.59 sampai Salatiga
09.50 sampai Banjarnegara.

Alhamdulillah