Monday, January 05, 2009

Ikhlas dan sabar


Senin kemarin saya pergi ke salah satu instansi untuk mengurus bukti pembayaran dan beberapa dokumen yang hilang, sebelum kesana saya sudah menghubungi via telephon pic instansi tersebut tetapi tidak diangkat, saya coba lagi tetapi masih tidak diangkat, lalu saya tinggalkan pesan via sms yang intinya saya akan datang satu jam lagi sesuai kesepakatan sebelumnya.
Sesampai di instansi tersebut, saya urungkan niat saya untuk langsung pada tujuannya; mengurus bukti pembayaran dan dokumen yang hilang. Saya tidak berani menatap beliau, raut mukanya tampak merah tanpa senyum seperti menahan marah atau mungkin hanya karena terlalu kecape'an.
Benar saja, selang beberapa menit kemudian, salah satu rekannya memanggil beliau dan sepertinya membicarakan masalah yang serius.
Cukup lama saya menunggu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya menunggu.
Setelah hampir satu jam, beliau menghampiri saya "Bagaimana mbak..." saya tidak langsung menjawab, saya menatap beliau sebentar memastikan apakah beliau memang sudah siap memberikan arahan untuk membantu saya/belum.
Setelah beliau berusaha menenangkan diri, saya lalu berniat memohon diri, karena sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengurus beberapa surat yang cukup menyita waktu kerja dan tidak bisa langsung selesai dalam tiga hari, padahal saya sangat membutuhkannya untuk digunakan besok.

Tapi, untuk berpamitan, agak sungkan juga "Maaf, Bapak sepertinya sedang dalam masalah...mungkin sebaiknya...." beliau lantas menjawab "Iya Mbak, besok jam 9 pagi mbak kesini lagi saja, hari ini saya masih banyak urusan".
Saya berusaha untuk tetap senyum dan menghela nafas...walaupun sebenarnya saya kecewa, soalnya untuk bertemu beliau lumayan tidak gampang.
"Semoga segera selesai masalahnya ya Pak..." berusaha ikhlas sambil menatap beliau sebentar, memastikan besok saya akan menemui beliau lagi. Tak disangka beliau lalu malah bercerita tentang masalah yang tengah dihadapi, walaupun agak kecewa, karena hari ini urusannya belum bisa kelar, tapi saya berusaha untuk mendengarkan dengan serius dan benar-benar ikhlas sesekali membaca astaghfirullah dalam hati untuk mengenyahkan kekecewaan saya. Tak terasa, beliau bercerita sudah 1 jam lebih lamanya, kalau tidak karena dipanggil temannya, mungkin beliau belum menghentikan ceritanya.
Sebelum beliau meninggalkan saya, beliau hanya berucap sambil tersenyum "terimakasih dan mohon maaf", saya melihat muka beliau sudah tidak seseram tadi lagi.
Lewat jam 11 malam, saya masih belum bisa memejamkan mata, memikirkan dokumen yang hilang itu.
Tiba-tiba telephon berbunyi, dari P Agus.
"Selamat malam Pak, bagaimana Pak...ada lagi persyaratan yang perlu saya tambahkan?"
Beliau hanya menjawab "Tadi saya sudah meminta tolong dengan pihak xxx untuk salinan bukti pembayaran dan dokumen Anda, besok pagi langsung bisa diambil ya mbak..."
Subhanallah, seperti disamber apa gitu...mendengar kata-kata barusan.
Mungkin inilah hikmah dari kesabaran, ketulusan dan keikhlasan dari hanya sekedar mendengarkan, walaupun sebenarnya hati kita sedang diliputi kekecewaan.
Alhamdulillah...




No comments: