Dalam satu bulan, saya melakukan operasi sebanyak 3 kali.
5 Februari 2013, operasi usus buntu
28 Februari 2013, operasi laparoskopi (pembedahan dengan 3 sayatan kecil)
28 Februari 2013, operasi laparotomi (Pembedahan
yang dilakukan pada usus akibat terjadinya perlekatan usus)
Pada awalnya, saya melahirkan dengan operasi Caesar pada 06 Juli 2012 di sebuah rumah sakit pemerintah.
Saya tidak membayangkan sebelumnya kalau rasanya akan sesakit itu.
Selama proses operasi saya sepenuhnya sadar dan teramat sangat merasakan kesakitan karena saat pembedahan saya merasakan perih begitu juga setiap gerakan yang dilakukan dokter pada perut saya sampai keluarnya bayi, saya merasakan dengan sangat jelas terasa.
Selama proses operasi itu saya muntah-muntah terus, karena sebelumnya berpuasa jadi yang keluar adalah air dan lendir yang berbau sangat tidak enak. kemungkinan bau menyengat berasal dari suntikan yang diberikan oleh dokter melalui infus tangan kanan saya dan dilakukan lebih dari sekali.
Saya juga bisa mendengar dengan teramat jelas apa saja percakapan antara dokter dan tim yang melakukan operasi.
Hari pertama sampai hari ke tiga pasca operasi saya masih teramat sangat kesakitan untuk menggerakkan badan, walaupun hanya memiringkan kanan/kiri. Beruntung si kecil masih banyak boboknya jadi memberikan Asi tidak terlalu sering sehingga saya tidak terlalu banyak bergerak.
Perawat yang bertugas selalu menyemangati agar saya berlatih bangun dan jalan sendiri. sayapun mengikuti. Biarpun kesakitan saya tidak mau dibilang manja, hingga seminggu sakit berkurang hanya sedikit dan saya sudah bisa berjalan membungkuk dan memberikan ASI ke si kecil dengan dipangku. Jalannya pun masih rambatan pada dinding karena masih merasakan pusing di kepala dan sempoyongan.
Lebih kurang setelah 15an hari saya baru bisa mengemban si kecil sendiri untuk waktu yang tidak terlalu lama dan hanya di bawah dada tidak bisa menempel ke area perut karena masih nyeri.
Akhir bulan agustus saya sudah mulai aktiv bekerja kembali, namun rasa sakit pada area perut tak kunjung hilang, bahkan suatu waktu pernah pingsan saat bekerja karena merasakan nyeri mendadak yang teramat sangat serta kepala yang tiba-tiba pusing, dan lemas setelah dibawa kerumah sakit ternyata kekurangan gula darah.
Pertengahan bulan desember 2013 saya pindah rumah ke Cileungsi-Bogor dan pindah kerja ke Jakarta dari rumah yang semula di Kendal dan kerja di Semarang.
Baru satu bulan masuk kerja saya sudah beberapa kali ijin tidak masuk karena sakit.
Puncaknya pada sekitar tanggal 15 Februari, setiap kali naik bus, berjalan kaki, naik motor atau apapun yang sedikit membuat capek nyeri semakin berasa dan untuk bernafas juga susah (terpotong-potong), terlebih kalau naik kendaraan dan melewati polisi tidur atau jalan berlubang rasanya perut/bagian usus seperti dijepit. Tak jarang juga saya muntah-muntah dan lemas tiba-tiba dengan waktu yang tidak menentu.
Tanggal 20 Januari saya ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan beruntun mulai dari :
1. Dokter kandungan : menyatakan tidak ada masalah dengan bekas operasi caesar saya, semua tampak normal.
2. Dokter spesialis penyakit dalam : memungkinkan sakit pada area ginjal dan dirujuk untuk melakukan pemeriksaan USG Abdomen
3. Dokter spesialis yang melakukan USG Abdomen : setelah dilihat hasil radiologinya kemungkinan usus buntu
4. Dokter spesialis bedah : menyatakan kalau suspek appendix sub akut.
Karena usus buntu saya masih dinyatakan sub akut, dokter memberikan pilihan berobat jalan/ langsung operasi. Saya memilih untuk rawat jalan. Dokter mengingatkan apabila selama seminggu jika tidak berhasil maka pilihan terakhir adalah operasi. Dan saya menurut.
Tiga hari saya hanya beristirahat saja dirumah tanpa melakukan aktivitas berat. Dan setelah cukup membaik pada hari kamis, saya memutuskan untuk berangkat kerja. Belum ada 30 menit perjalanan, sakit perut saya kembali menghebat dan sepanjang perjalanan sampai kekantor saya selalu muntah di bus. Karena perjalanan melalui jalan tol dari arah Cibubur ke kawasan Sudirman, maka saya tetap bertahan dibus, tidak ada pilihan untuk turun di jalan tol.
Setelah itu berhari-hari nyeri diperut tak kunjung berkurang dan malam sebelum dioperasi, perut saya semakin nyeri, diraba terasa panas dan nampak membengkak. Besoknya dokter langsung meminta saya untuk dioperasi malam itu juga.
Tiga hari setelah operasi usus buntu, saya merasa lebih baik sampai seminggu berikutnya.
Setelah itu saya kembali merasakan sedikit nyeri dan kurang lebih tiga kali konsultasi ke dokter yang sama dan dinyatakan sudah tidak ada masalah dengan bekas operasi usus buntu saya, dari luar lukanya juga tampak sudah mengering. Oleh dokter saya diberikan obat penahan nyeri serta vitamin dan diminta untuk beristirahat total kembali.
Setelah itu nyeri di perut saya semakin tidak tertahankan, hampir setiap malam saya menjerit kesakitan, pusing, lemas, beberapakali hampir pingsan/ pingsan dirumah sampai tidak bisa makan sama sekali karena setiap kali apa yang saya makan, pasti akan muntah, dan saya hanya minum air putih saja. Hari berikutnya saya sudah kesulitan minum karena begitu sampai dekat ulu hati, nyerinya semakin terasa dan menjadi-jadi.
Sakit pada perut berpindah-pindah mulai dari ulu hati, lambung, ginjal begitu seterusnya berpindah-pindah tidak menentu. Karena sudah tidak kuat lagi, pada tanggal 26 Februari jam 23.30 saya kembali kerumah sakit melalui UGD. Setelah melalui pemeriksaan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter USG Abdomen/ radiologi, bahwa ada pengerasan di area perut yang kemungkinan adalah karena infeksi dan nanah yang sudah menyebar. Maka tanggal 28 Februari saya melakukan operasi laparoskopi untuk membuang nanah yang sudah menyebar didalam perut. Melalui operasi laparoskopi tampak pada komputer ada 3 lembar kain kassa yang tertinggal dan sudah tidak jelas pada bekas operasi caesar saya dan usus/ organ perut lain yang saling berlekatan. setelah meminta persetujuan suami dan keluarga kembali tim dokter melakukan operasi laparotomi.
Operasi berlangsung kurang lebih 5jam, kemudian saya dipindahkan ke ruang ICU selama 2,5 hari dan setelah itu perawatan di kamar pasien biasa. Kurang lebih 5 hari saya hanya mendapat asupan makanan dari selang infus, sampai saya tidak kuat lagi diinfus karena kedua tangan saya membengkak seperti gajah, tidak bisa digerakkan lagi walaupun hanya sedikit gerakan menimbulkan rasa nyeri karena bengkak. Saya meminta untuk makan dan minum seperti biasa.
Kurang lebih 10 hari di rumah sakit, saya diperbolehkan pulang dan setelah itu menjalani rawat/berobat jalan dengan seminggu 2x kontrol.
Sampai dengan hari ini, 39 hari pasca operasi saya masih merasakan nyeri dan keterbatasan gerak serta aktivitas.
Setiap kali saya bisa merasakan makan enak, berdiri, duduk, tidur dan berjalan dengan nyaman saya sungguh merasa bersyukur atas anugerah yang Allah berikan kepada saya.
Kurang lebih 2,5 bulan saya berhenti total dalam aktivitas keseharian saya. Mulai dari menggondong si kecil "Atha", jalan-jalan, aktivitas dirumah atau saya bahkan berhenti dari pekerjaan saya dan menjadi ibu rumah tangga yang sementara ini tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga kecuali memasak yang ringan-ringan saja itupun sebentar dan menulis/membaca.
Saya menulis ini tidak ada tujuan lain selain membagikan cerita kepada embak-embak, calon ibu, para suami dll agar selalu berhati-hati dalam memilih persalinan agar tidak menyesal kemudian dan senantiasa menjaga waktu sehat sebelum datangnya sakit.
Karena persalinan sesar memiliki resiko jangka panjang yang bisa jadi fatal untuk ibu :
1. Merasakan sakit/ nyeri lebih lama, mulai sewaktu dioperasi, setelah operasi dan mungkin masih akan terasa dalam jangka panjang.
2. Pemulihannya membutuhklan waktu yang lebih lama
3. Rentan terkena infeksi
4. Terdapat bekas luka, yang mulai dari setelah operasi sampai sembuh harus dirawat dengan baik.
5. Keterbatasan gerak/aktivitas. Setelah operasi kita tidak boleh mengangkat yang berat-berat
6. Kemungkinan waktu yang hilang untuk menjalin kedekatan dengan anak
7. Bisa jadi ada efek lain yang baru diketahui setelah sekian lama (Seperti yang saya alami)
8. Untuk melahirkan kembali secara normal peluangnya kecil
9. kelahiran berikutnya harus diberi batasan waktu.
*Saya menulis dengan mengalir begitu saja, tidak ada maksud dan tujuan lain selain berbagi. Mohon maaf kalau ada kesalahan/kekeliruan dalam ungkapan tulisan saya karena saya hanyalah manusia biasa yang jauh dari sempurna*
Salam