Thursday, February 28, 2008

Pulang kampung

Dari pertama aku merantau ke Semarang, tahun 2001, bisa dibilang aku jarang pulang. Dalam setahun, mungkin aku hanya pulang empat kali atau lima kalian saja.
Ada beberapa alasan, kenapa aku jarang pulang.
Pertama bus yang aku tumpangi jelek, kalo cuma jelek, aku masih baik-baik saja. Selain jelek, bus selalu diisi dengan muatan yang penuh sesak, yang berdiri bejubelan, kadang biarpun dapat tempat duduk, tetap saja tidak nyaman, karena dua tempat duduk bisa diisi tiga orang, dan malah membuat badan jadi pegel-pegel, kalo berdiri, pfhhh...serasa menyangga bebab berkilo-kilo. karena kalo berdiri juga gak tanggung-tanggung, bisa nyampe tiga jam, berdiri seperti patung, tak ada ruang gerak, mpet-mpetan dengan penumpang lain & sialnya, kalo ditambah kebelet pipis, makkk!!!. Kedua Bapak sopir suka mengemudi dengan kebut-kebutan, apalagi kalo sudah ada yang membuntuti, itu yang paling bikin aku tidak nyaman, deg-degan. Ketiga biarpun di bus, ruang terbatas, tetap saja kondisi tidak nyaman. Pernah sekali aku kecopetan. Untungnya aku menyimpan uang dan surat-surat berharga tidak pada dompet. Tapi masih ditempat pensil, belum dipindah. Alhasil, si copet hanya membawa dompet yang berisi kertas2 bon, yang belum aku tukarkan u reimburst (ternyata, bon-bon itu selanjutnya sangat berguna untuk menukar dg uang, ;P, dan ini ternyata cukup serius, karena tidak hanya bonku saja tapi punya orang lain juga cukup banyak). Keempat tak jarang bus yang aku tumpangi berhenti ditengah jalan. Yang paling bikin aku deg-degan, bannya bocor ditanjakan daerah wonosobo yang berbukit n berkelok-kelok, karena melewati dua gunung, Sindoro dan Sumbing.
Tak jarang aku pulang sampe rumah (Semarang-Banjarnegara) sampai 7 jam'an, padahal perjalanan normal cuma sekitar lima jam'an. Selain karena faktor P Suir, bus, n kondisi didalambus, juga faktor cuaca n kondisi jalan. Kalo cuaca lagi mendung/berkabut, jarak pandang bisa cuma semeter. Ditambah kondisi jalan yang banyak lubang disana-sini dan aspal yang tidak rata.
Setelah aku pikir sudah cukup mengenal jalan Semarang-Banjarnegara, aku kemudian memutuskan untuk naik motor. Pertama mendengar keputusanku, orang tuaku komentar, "sing bener bae" (yang bener aja), tapi kemudian aku berhasil membuktikan ke orangtuaku kalo aku bisa baik-baik saja menempuh jarak Banjarnegara-Semarang naik motor seorang diri. Ini berlangsung sampai sekitar dua tahun. Buatku perjalanan dengan motor apalagi jarak yang cukup jauh, punya keasyikan sendiri. Sampai sekarang, kalo ditanya apa asyiknya, aku sendiri bingung mendeskripsikannya.
Setelah bekerja di perusahaan kontraktor, karena waktu kerjaku senin-sabtu, aku kalau pulang kampung sudah jarang naik motor lagi, pernah aku memaksa pulang naik motor, ternyata mencelakakan diri sendiri, sewaktu muter di jalan wonosobo yang berkelok-kelok, tanpa sadar menambrak trotoar setinggi 15an cm. Hmmm...celana jensku nyampe robek di bagian tulang kering n sampai berdarah. Lecet-lecet dikulit tangan, kaki dan muka, rasanya perih sekali kalo terkena air. Untung ada mas-mas yang baik hati mau menolong dan mengantarkan ke bengkel, plus mendorong-dorong motorku :D.
Kecelakaan itu bukan akhir dari perjalanan naik motor, balik ke Semarangnya aku masih naik motor, tidak seorang diri tentunya.
Entah kenapa, sudah dua tahunan terakhir ini, aku sudah kehilangan nyali untuk kembali ke kampung halaman naik motor seorang diri. Hmmm...yang pasti, aku tak serajin dulu menservis motorku, jadi sering
trouble sewaktu aku kendarai. Jangankan Semarang- Banjar, Sampangan-Pandanaran saja yang satu kota masih suka mogok dijalan.
Hmmm, motor itu seperti manusia, kalo dirawat dan diperlakukan dengan baik, dia juga baik kekita. kalo dicuekin, dia bisa jadi bikin masalah (kata Tio) :D.
Yokkk...motornya diservis :D

Sunday, February 24, 2008

Kopi 123

ZZZzzzzz...Ngantuk.
Ngopi yuuk...
Pilihannya sih gitu, kalo sudah ngantuk berat, hoahm...kupi!!!
Tapi jarang2 juga aku minum kopi.
Kalopun minum, aku pake rumus 123, dijamin PASS!!
1sdt kopi + 2sdt gula + 3sdt krimer
Cobain deh, pasti PASS!! :d
Minum kopi yang bikin aku kapok, sewaktu aku jalan2 ke Banaran cave, sebelum salatiga.
Coba2 aja, pesen kopi yang harganya 18ribuan, (aku lupa, apa namanya). Beneran, gak lama, jantungku berdebar kenceng, keringetan ma pengen pipis terus.
Padahal temanku yg juga minum kopi dg jenis yang sama, baik2 saja.
Aku masih belum yakin dengan diriku yang kurang dapat menerima kopi pekat tanpa krimer seperti yang aku minum sewaktu di Banaran.
Sebulanan kemudian, aku mencoba lagi minum kopi pekat (tanpa krimer) di Fashion cave (Jembatan antara Citraland & Simpang Lima Plaza), hmm...gak lama aku merasakan hal yang sama.
Dari situ aku sudah yakin benar, kopi apa yang paling cocok untukku. Apalagi kalo bukan kopi rumus 123

Kalau sudah capek....

Kalau sudah capek, dipaksakan mengerjakan sesuatu, biasanya hasilnya jadi tidak baik.
Hmm, jumat sepulang dari kantor, jam setengah lima'an, aku ganti baju, gak lama langsung mencuci sampai satu jam. Jam enamnya langsung salat magrib, n siap2 les. Sewaktu les, pikiran masih bisa diajak kompromi lah... pulangnya mungkin karena hujan2an kali ya...jadi
"awak nggreges" gak enak body gitulah...
Srppttt, biasanya kalo sudah gini, aku minum segelas teh panas, baru jadi anget kalo sudah mau habis. Rasanya sudah mendingan... Jam 9 aku keluarin baju2 yang dah seminggu lebih gak disetrika, jadilah aku nyetrika... Sampai jam 12an mata mulai
krptkrpt, banjarane gari rong wat.
Entah sadar ato ndak, kaki kananku nyenggol setrika, Whadhouwww...sampe sekarang masih melepuh.
Jadi kalo pergi2 kekantor or ada kelas, masi pake jepit'an :D

Beruntungkah Anda?

Hidup, kita memang tidak dapat memilihnya. Kita lahir dari rahim siapa, dalam kondisi keluarga bagaimana, juga di lingkungan mana.

Boleh jadi adasebagian kita yang beruntung; lahir dari keluarga harmonis, materi berkecukupan, status sosial bagus, sehingga hampir-hampir hidupnya mulus bak jalan tol. Tapi boleh jadi pula, ada sebagian dari kita yang 'tampak' kurang beruntung; lahir dari keluarga broken home, miskin, untuk hidup sehari-hari saja kembang-kempis.
Beruntung atau tidak beruntung, sebutan itu secara tidak sengaja sering membuat kita merasa jadi orang paling menderita. Apalagi jika melihat kebahagiaan orang lain, maka tidak jarang yang muncul malah rasa dengki dan iri. Atau bahkan menggugat?
Ya, kalau boleh jujur, kita kadang sering menggugat Allah SWT. Kenapa kita lahirtidak beruntung? kenapa kita tidak boleh memilih dari mana kita dilahirkan? Ujung-ujungnya bukan semangat untuk mengubah keadaan yang kita dapatkan, malah rasa putus asa yang mendera.
Kita menyebutnya takdir. "Mungkin memang takdir kita menjadi orang yang kurang beruntung. Atau Allah memang menciptakan kita jadi orang yang tidak beruntung, rejeki pas-pasan, nasib sial?"
Saat kita berbicara takdir, maka kita tidak memiliki kewenangan apapun selain kita menerimanya dengan lapang hati.

"Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya didalam rahim selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadi mudhghah selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh padanya. Lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata : rejekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya." (HR. Bukhari-Muslim).

Dari semua hal yang kita anggap sebagai 'ketidakberuntungan' itu, benarkah akan membawa ketidakberuntungan hidup selama-lamanya, menjadikan kita manusia paling sengsara sedunia?

Bijaksanakah jika ketidakberuntungan dijadikan kambing hitam jika saat ini hidup kita tidak bahagia, bahkan penuh kegagalan? Dimana kebahagiaan dan kesuksesan itu berada, dan benarkah kita hidup penuh ketidakberuntungan?

Lahir cantik, dalam keluarga terhormat lagi kaya, apakah itu yang disebut beruntung? Dan yang lahir hitam, pesek, miskin, disebut tidak beruntung? Bagaimana jika yang lahir kaya itu kemudian berakhir dipenjara karena narkoba, atau selalu diliputi kecemasan karena takut kehilangan kekayaannya, masihkah kekayannya disebut keberuntungan? Dan bagaimana jika si miskin, si jelek rupa menjadi orang sukses, layakkah disebut beruntung?

Setidaknya ada dua hal yang membuat kita tidak bersyukur, pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Percaya atau tidak, kita menganggap diri tidak beruntung setelah melihat banyak keinginan kita tidak tercapai. Sedangkan apa yang kita miliki, terlupakan begitu saja. Dan proses menginginkan sesuatu itu muncul setelah kita banyak 'memandang' orang lain.

Kedua, kecenderungan membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari pada kita. Rumput tetangga sering kelihatan lebih hijau daripada rumput pekarangan sendiri.

Masihkah kita menganggap diri kita dilahirkan tidak beruntung? Ingatlah pitutur ahli hikmah, "Terimalah dengan penuh kerelaan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya."

William Janes berujar, "Penderitaan telah membantu kita untuk mencapai batas yang tidak pernah terbayangkan. Andaikata Dostoyevsky dan Leo Tolstoy tidak mengalami kehidupan yang pahit, keduanya tidak akan sukses menulis memoar dan novel2 yang mengagumkan dan abadi hingga saat ini."

Seorang penyair berkata, "Kadangkala Allah menganugerahkan nikmat dengan cobaan, walau sangat besar."

Rasa sakit tidak selamanya tak berharga, sehingga harus selalu dibenci. Sebab, mungkin rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang. Kita tidak akan bisa menikmati manisnya gula kalau sebelumnya tidak pernah merasakan pahitnya jamu.

Seorang penyair yang tidak pernah merasakan pahitnya berusaha dan tidak pernah mereguk pahitnya hidup, maka untaian qasidah-qasidahnya hanya akan terasa seperti kumpulan kata-kata murahan yang tak terlihat. Sebab, untaian syair itu hanya keluar dari lisan, bukan dari perasaannya. Yang diutarakan hanya sebatas penalaran, bukan dari hati nurani.

Dari sinilah makna 'Bersama kesulitan ada kemudahan' terlihat. Bahwa setiap kesulitan dan ketidakberuntungan itu ternyata tidak sia-sia. Yang nampak berbahaya, mungkin bermanfaat.

Masih banyak tokoh-tokoh ternama kaliber dunia justru meroket karyanya setelah mengalami satu kondisi yang oleh kebanyakan orang disebutnya sebagai menyebalkan dan menyakitkan


(taken from :"ta'awun' Buletin Baitul Maal Hidayatullah)

berGABUBG HANYA Rp 19ribu

IT'S SHOWTIME ORIFLAME 2008!
Manfaatkan promo 25 Feb-31 Maret berGABUNG HANYA Rp 19rb
(dan dapatkan reFUND Rp 10rb saat order pertama minimal Rp 150rb)!
Hadiah
WP1 Optimal White (12551)
WP2 NEW EDP AMETHYST FATALE (11360)
WP3 Kalung SWAROVSKI seharga Rp 329rb!