Dari pertama aku merantau ke Semarang, tahun 2001, bisa dibilang aku jarang pulang. Dalam setahun, mungkin aku hanya pulang empat kali atau lima kalian saja.
Ada beberapa alasan, kenapa aku jarang pulang. Pertama bus yang aku tumpangi jelek, kalo cuma jelek, aku masih baik-baik saja. Selain jelek, bus selalu diisi dengan muatan yang penuh sesak, yang berdiri bejubelan, kadang biarpun dapat tempat duduk, tetap saja tidak nyaman, karena dua tempat duduk bisa diisi tiga orang, dan malah membuat badan jadi pegel-pegel, kalo berdiri, pfhhh...serasa menyangga bebab berkilo-kilo. karena kalo berdiri juga gak tanggung-tanggung, bisa nyampe tiga jam, berdiri seperti patung, tak ada ruang gerak, mpet-mpetan dengan penumpang lain & sialnya, kalo ditambah kebelet pipis, makkk!!!. Kedua Bapak sopir suka mengemudi dengan kebut-kebutan, apalagi kalo sudah ada yang membuntuti, itu yang paling bikin aku tidak nyaman, deg-degan. Ketiga biarpun di bus, ruang terbatas, tetap saja kondisi tidak nyaman. Pernah sekali aku kecopetan. Untungnya aku menyimpan uang dan surat-surat berharga tidak pada dompet. Tapi masih ditempat pensil, belum dipindah. Alhasil, si copet hanya membawa dompet yang berisi kertas2 bon, yang belum aku tukarkan u reimburst (ternyata, bon-bon itu selanjutnya sangat berguna untuk menukar dg uang, ;P, dan ini ternyata cukup serius, karena tidak hanya bonku saja tapi punya orang lain juga cukup banyak). Keempat tak jarang bus yang aku tumpangi berhenti ditengah jalan. Yang paling bikin aku deg-degan, bannya bocor ditanjakan daerah wonosobo yang berbukit n berkelok-kelok, karena melewati dua gunung, Sindoro dan Sumbing.
Tak jarang aku pulang sampe rumah (Semarang-Banjarnegara) sampai 7 jam'an, padahal perjalanan normal cuma sekitar lima jam'an. Selain karena faktor P Suir, bus, n kondisi didalambus, juga faktor cuaca n kondisi jalan. Kalo cuaca lagi mendung/berkabut, jarak pandang bisa cuma semeter. Ditambah kondisi jalan yang banyak lubang disana-sini dan aspal yang tidak rata.
Setelah aku pikir sudah cukup mengenal jalan Semarang-Banjarnegara, aku kemudian memutuskan untuk naik motor. Pertama mendengar keputusanku, orang tuaku komentar, "sing bener bae" (yang bener aja), tapi kemudian aku berhasil membuktikan ke orangtuaku kalo aku bisa baik-baik saja menempuh jarak Banjarnegara-Semarang naik motor seorang diri. Ini berlangsung sampai sekitar dua tahun. Buatku perjalanan dengan motor apalagi jarak yang cukup jauh, punya keasyikan sendiri. Sampai sekarang, kalo ditanya apa asyiknya, aku sendiri bingung mendeskripsikannya.
Setelah bekerja di perusahaan kontraktor, karena waktu kerjaku senin-sabtu, aku kalau pulang kampung sudah jarang naik motor lagi, pernah aku memaksa pulang naik motor, ternyata mencelakakan diri sendiri, sewaktu muter di jalan wonosobo yang berkelok-kelok, tanpa sadar menambrak trotoar setinggi 15an cm. Hmmm...celana jensku nyampe robek di bagian tulang kering n sampai berdarah. Lecet-lecet dikulit tangan, kaki dan muka, rasanya perih sekali kalo terkena air. Untung ada mas-mas yang baik hati mau menolong dan mengantarkan ke bengkel, plus mendorong-dorong motorku :D.
Kecelakaan itu bukan akhir dari perjalanan naik motor, balik ke Semarangnya aku masih naik motor, tidak seorang diri tentunya.
Entah kenapa, sudah dua tahunan terakhir ini, aku sudah kehilangan nyali untuk kembali ke kampung halaman naik motor seorang diri. Hmmm...yang pasti, aku tak serajin dulu menservis motorku, jadi sering trouble sewaktu aku kendarai. Jangankan Semarang- Banjar, Sampangan-Pandanaran saja yang satu kota masih suka mogok dijalan.
Hmmm, motor itu seperti manusia, kalo dirawat dan diperlakukan dengan baik, dia juga baik kekita. kalo dicuekin, dia bisa jadi bikin masalah (kata Tio) :D.
Yokkk...motornya diservis :D
No comments:
Post a Comment