Sunday, February 24, 2008

Beruntungkah Anda?

Hidup, kita memang tidak dapat memilihnya. Kita lahir dari rahim siapa, dalam kondisi keluarga bagaimana, juga di lingkungan mana.

Boleh jadi adasebagian kita yang beruntung; lahir dari keluarga harmonis, materi berkecukupan, status sosial bagus, sehingga hampir-hampir hidupnya mulus bak jalan tol. Tapi boleh jadi pula, ada sebagian dari kita yang 'tampak' kurang beruntung; lahir dari keluarga broken home, miskin, untuk hidup sehari-hari saja kembang-kempis.
Beruntung atau tidak beruntung, sebutan itu secara tidak sengaja sering membuat kita merasa jadi orang paling menderita. Apalagi jika melihat kebahagiaan orang lain, maka tidak jarang yang muncul malah rasa dengki dan iri. Atau bahkan menggugat?
Ya, kalau boleh jujur, kita kadang sering menggugat Allah SWT. Kenapa kita lahirtidak beruntung? kenapa kita tidak boleh memilih dari mana kita dilahirkan? Ujung-ujungnya bukan semangat untuk mengubah keadaan yang kita dapatkan, malah rasa putus asa yang mendera.
Kita menyebutnya takdir. "Mungkin memang takdir kita menjadi orang yang kurang beruntung. Atau Allah memang menciptakan kita jadi orang yang tidak beruntung, rejeki pas-pasan, nasib sial?"
Saat kita berbicara takdir, maka kita tidak memiliki kewenangan apapun selain kita menerimanya dengan lapang hati.

"Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya didalam rahim selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadi mudhghah selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh padanya. Lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata : rejekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya." (HR. Bukhari-Muslim).

Dari semua hal yang kita anggap sebagai 'ketidakberuntungan' itu, benarkah akan membawa ketidakberuntungan hidup selama-lamanya, menjadikan kita manusia paling sengsara sedunia?

Bijaksanakah jika ketidakberuntungan dijadikan kambing hitam jika saat ini hidup kita tidak bahagia, bahkan penuh kegagalan? Dimana kebahagiaan dan kesuksesan itu berada, dan benarkah kita hidup penuh ketidakberuntungan?

Lahir cantik, dalam keluarga terhormat lagi kaya, apakah itu yang disebut beruntung? Dan yang lahir hitam, pesek, miskin, disebut tidak beruntung? Bagaimana jika yang lahir kaya itu kemudian berakhir dipenjara karena narkoba, atau selalu diliputi kecemasan karena takut kehilangan kekayaannya, masihkah kekayannya disebut keberuntungan? Dan bagaimana jika si miskin, si jelek rupa menjadi orang sukses, layakkah disebut beruntung?

Setidaknya ada dua hal yang membuat kita tidak bersyukur, pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Percaya atau tidak, kita menganggap diri tidak beruntung setelah melihat banyak keinginan kita tidak tercapai. Sedangkan apa yang kita miliki, terlupakan begitu saja. Dan proses menginginkan sesuatu itu muncul setelah kita banyak 'memandang' orang lain.

Kedua, kecenderungan membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari pada kita. Rumput tetangga sering kelihatan lebih hijau daripada rumput pekarangan sendiri.

Masihkah kita menganggap diri kita dilahirkan tidak beruntung? Ingatlah pitutur ahli hikmah, "Terimalah dengan penuh kerelaan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya."

William Janes berujar, "Penderitaan telah membantu kita untuk mencapai batas yang tidak pernah terbayangkan. Andaikata Dostoyevsky dan Leo Tolstoy tidak mengalami kehidupan yang pahit, keduanya tidak akan sukses menulis memoar dan novel2 yang mengagumkan dan abadi hingga saat ini."

Seorang penyair berkata, "Kadangkala Allah menganugerahkan nikmat dengan cobaan, walau sangat besar."

Rasa sakit tidak selamanya tak berharga, sehingga harus selalu dibenci. Sebab, mungkin rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang. Kita tidak akan bisa menikmati manisnya gula kalau sebelumnya tidak pernah merasakan pahitnya jamu.

Seorang penyair yang tidak pernah merasakan pahitnya berusaha dan tidak pernah mereguk pahitnya hidup, maka untaian qasidah-qasidahnya hanya akan terasa seperti kumpulan kata-kata murahan yang tak terlihat. Sebab, untaian syair itu hanya keluar dari lisan, bukan dari perasaannya. Yang diutarakan hanya sebatas penalaran, bukan dari hati nurani.

Dari sinilah makna 'Bersama kesulitan ada kemudahan' terlihat. Bahwa setiap kesulitan dan ketidakberuntungan itu ternyata tidak sia-sia. Yang nampak berbahaya, mungkin bermanfaat.

Masih banyak tokoh-tokoh ternama kaliber dunia justru meroket karyanya setelah mengalami satu kondisi yang oleh kebanyakan orang disebutnya sebagai menyebalkan dan menyakitkan


(taken from :"ta'awun' Buletin Baitul Maal Hidayatullah)

No comments: