Setiap dari kita pasti mempunya mimpi...
Sekecil apapun itu.
Tinggal bagaimana kita berusaha mewujudkannya.
Menyusun rencana, memulai langkah pertama, hingga berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya.
Atau barangkali ada sebagian dari kita yang justru ragu akan mimpi kita sendiri? Bahkan sekedar untuk memikirkannya atau ragu untuk memulai langkah pertama?
Kalau ditanya, apa mimpi saya? Jawabnya tidak hanya satu. Buanyakkk!!
Bagaimana kalau ternyata mimpi-mimpi kita tidak kunjung terwujud padahal kita sudah semaksimal mungkin mengupayakannya?
Tidak usah berputus asa, tugas kita adalah berdoa, berusaha...
Manusia punya keinginan/mimpi... Tetapi Allah punya ketetapan.
Ambil hikmahnya dari setiap kejadian yang tidak sesuai dengan keinginan.
Bisa jadi yang kita inginkan apabila suatu waktu keinginan kita terpenuhi justru akan mendatangkan keburukan yang lebih banyak.
Yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Allah.
Atau barangkali belum waktunya kita memiliki apa yang kita impikan sesuai keinginan kita. Yakinlah Allah akan memberikan sesuatu di saat yang tepat.
*ditulis mengalir saja, mohon maaf kl terdapat kesalahan/ketidaksesuaian
Arinday Atha
Sms, Wechat : 081575004141
PIN BB : 277AD653
http://arinday-atha.blogspot.com
http://buku-second.blogspot.com
Tuesday, March 31, 2015
Monday, March 30, 2015
Menjadi IRT juga tetap bisa produktif
Adakalanya...
Kita (Ibu Rumah Tangga) yang awalnya meniti karir dari semenjak singgel sampai menikah dan karena alasan tertentu berhenti bekerja hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga sejati mengalami kondisi 'ambang batas' kebosanan atau jenuh dengan aktivitas sehari-hari yang hampir monoton itu-itu saja.
Kedengarannya lebay/ berlebihan ya... Hee...
Apakah Anda juga pernah mengalami hal seperti yang juga pernah saya rasakan?
'Ngaku hayooo....?!!'
Jika keputusan Anda sudah bulat untuk menjadi ibu rumah tangga sejati, entah itu karena suatu pilihan atau keadaan yang 'memaksa' harus menjadi IRT sejati maka sebaiknya hal itu menjadi sesuatu yang wajib disyukuri. Ambil hikmahnya dan sisi baik/positifnya agar hati menjadi tenang dan tidak menggerutui 'kejenuhan' yang melanda.
Walaupun kita menjadi ibu rumah tangga sejati, tidak berarti kita tidak dapat produktif.
Produktif tidak 'melulu' diukur dari keberhasilan menghasilkan materi, tapi bisa juga produktif dalam hal; menyelesaikan dengan tuntas pekerjaan rumah tangga (yang berarti menghemat biaya dibanding jika pekerjaan dilakukan oleh asisten rumah tangga), mengurus/memenuhi kebutuhan anak seperti menemaninya belajar, bermain (yang berarti menghemat biaya jika mengurus anak dilakukan oleh pengasuh/Babbysitter, menghemat biaya jika anak belajar dengan guru privat) atau juga produktif untuk keluarga besar/saudara dan lingkungan sekitar seperti membantu/menolong saudara/tetangga, menjadi pengurus PKK dan lain-lain. Selain menambah nilai untuk diri sendiri juga dapat menambah wawasan dengan orang lain atau lingkungan sekitar.
Ibu rumah tangga yang ingin tetap produktif dan menghasilkan dapat dilakukan melalui:
1. Merintis usaha dari rumah (seperti berjualan/menerima pesanan kue)
2. Membuka usaha jasa dari rumah (seperti membuka cabang laundry)
3. Membuka online shop (seperti berjualan baju branded dan menjualnya lewat internet/media sosial)
4. Membuka les privat (mengaji/ pelajaran sekolah)
Dan... Masih banyak lagi.
Dalam menjalankan usaha 'produktifnya' tentu seorang Ibu Rumah Tangga tetap harus menjalankan kewajiban utamanya terlebih dahulu. Jangan sampai karena kita terlalu sibuk mengurus 'usaha' pekerjaan utama justru di 'asistenkan'. Hal itu bisa seperti 'tambal sulam'. Misalnya karena kita terlalu capek menerima orderan kue (misal menghasilkan keuntungan Rp50.000,- sehari), pekerjaan rumah tangga diserahkan ke asisten dengan membayarnya Rp50.000,-/ hari. Tentunya secara angka yang kita dapat = 0. Belum dengan resiko kecapekan sehingga setelahnya kita melalaikan kewajiban mengurus anak dan suami.
Lain halnya jika usaha yang kita lakoni sudah berkembang tentu akan membutuhkan tambahan tenaga.
Hal tersebut bisa juga berarti, kita ikut memberdayakan orang lain/ lingkungan sekitar.
*ditulis mengalir saja, mohon maaf kalau terdapat kesalahan
Arinday Atha
Sms, Wechat : 081575004141
PIN BB : 277AD653
http://arinday-atha.blogspot.com
http://buku-second.blogspot.com
Kita (Ibu Rumah Tangga) yang awalnya meniti karir dari semenjak singgel sampai menikah dan karena alasan tertentu berhenti bekerja hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga sejati mengalami kondisi 'ambang batas' kebosanan atau jenuh dengan aktivitas sehari-hari yang hampir monoton itu-itu saja.
Kedengarannya lebay/ berlebihan ya... Hee...
Apakah Anda juga pernah mengalami hal seperti yang juga pernah saya rasakan?
'Ngaku hayooo....?!!'
Jika keputusan Anda sudah bulat untuk menjadi ibu rumah tangga sejati, entah itu karena suatu pilihan atau keadaan yang 'memaksa' harus menjadi IRT sejati maka sebaiknya hal itu menjadi sesuatu yang wajib disyukuri. Ambil hikmahnya dan sisi baik/positifnya agar hati menjadi tenang dan tidak menggerutui 'kejenuhan' yang melanda.
Walaupun kita menjadi ibu rumah tangga sejati, tidak berarti kita tidak dapat produktif.
Produktif tidak 'melulu' diukur dari keberhasilan menghasilkan materi, tapi bisa juga produktif dalam hal; menyelesaikan dengan tuntas pekerjaan rumah tangga (yang berarti menghemat biaya dibanding jika pekerjaan dilakukan oleh asisten rumah tangga), mengurus/memenuhi kebutuhan anak seperti menemaninya belajar, bermain (yang berarti menghemat biaya jika mengurus anak dilakukan oleh pengasuh/Babbysitter, menghemat biaya jika anak belajar dengan guru privat) atau juga produktif untuk keluarga besar/saudara dan lingkungan sekitar seperti membantu/menolong saudara/tetangga, menjadi pengurus PKK dan lain-lain. Selain menambah nilai untuk diri sendiri juga dapat menambah wawasan dengan orang lain atau lingkungan sekitar.
Ibu rumah tangga yang ingin tetap produktif dan menghasilkan dapat dilakukan melalui:
1. Merintis usaha dari rumah (seperti berjualan/menerima pesanan kue)
2. Membuka usaha jasa dari rumah (seperti membuka cabang laundry)
3. Membuka online shop (seperti berjualan baju branded dan menjualnya lewat internet/media sosial)
4. Membuka les privat (mengaji/ pelajaran sekolah)
Dan... Masih banyak lagi.
Dalam menjalankan usaha 'produktifnya' tentu seorang Ibu Rumah Tangga tetap harus menjalankan kewajiban utamanya terlebih dahulu. Jangan sampai karena kita terlalu sibuk mengurus 'usaha' pekerjaan utama justru di 'asistenkan'. Hal itu bisa seperti 'tambal sulam'. Misalnya karena kita terlalu capek menerima orderan kue (misal menghasilkan keuntungan Rp50.000,- sehari), pekerjaan rumah tangga diserahkan ke asisten dengan membayarnya Rp50.000,-/ hari. Tentunya secara angka yang kita dapat = 0. Belum dengan resiko kecapekan sehingga setelahnya kita melalaikan kewajiban mengurus anak dan suami.
Lain halnya jika usaha yang kita lakoni sudah berkembang tentu akan membutuhkan tambahan tenaga.
Hal tersebut bisa juga berarti, kita ikut memberdayakan orang lain/ lingkungan sekitar.
*ditulis mengalir saja, mohon maaf kalau terdapat kesalahan
Arinday Atha
Sms, Wechat : 081575004141
PIN BB : 277AD653
http://arinday-atha.blogspot.com
http://buku-second.blogspot.com
Wednesday, March 25, 2015
Berkemah ala Athaya
Sudah semingguan ini
Athaya suka ngiket2 selimut poohnya (selimut waktu dia lahir) diantara gagang pintu lemari.
Awalnya saya bingung
"Atha mainan apa siy...."
Bolak-balik ngumpet di balik selimut pooh yang digantung sambil bilang "Athaya umpet..."
"Ooh... Main umpet2an too"
"Athaya mau bobok dikemah Bunda.."
"Kemah?"
"Iyah, Athaya bobok disini ya..."
Sambil memberitahu Atha bobokan di bawah selimut yang dibentangkan.
Persis seperti tidur di tenda.
Jadilah hari ini Atha dibentangin jarit (jarit buat gendong bayi'Atha juga) diantara dua kontainer bajunya Atha.
Senenggg banget main disitu
Bobok'an diatas karpet dengan bantal Angry Bird. Minum susu juga dibalik kain jarit itu.
"Horeeee... Athaya kemah"
Arinday Atha
Sms, Wechat : 081575004141
PIN BB : 277AD653
Sunday, March 15, 2015
Kanopi
Bismillah...
Mari kita mulai membuat kanopi sendiri
Ukuran yang dibuat adalah 4X4 meter + 2,5x2 meter.
Ayah mencoba untuk mengerjakan sendiri sendiri mulai dari;
1. Membeli bahan kanopi (baja ringan, reng, spandek, mur-baut)
2. Membeli beberapa alat (Seperti sarung tangan, gunting potong, tang, palu karet, mata bor)
(sebagian banyak meminjam punya tetangga seperti tangga lipat, bor, tang potong baja ringan, siku, pengukur sudut, gulungan kabel, gergaji).
Cerita kenapa Ayah sampai mencoba untuk membuat kanopi sendiri sebenarnya bermula dari sini.... Sepulang kerja melihat ada tetangga di perumahan (Ayah Nabil) Blok B No.2 sedang membuat kanopi - Ayah tidak tahu kalau yang mengerjakan adalah empunya rumah :D - trus Ayah nanya ke Bunda "(Blok B No.2) ngerjain kanopinya belum selesai yah Bun?"
"Belum Ayah. Kanopinya baru dikerjain kalau ayah Nabil pulang kerja, maleman gitu"
"Berarti dikerjain sendiri?"
"Iya...."
Dari situlah Ayah mulai mangut-mangut (mungkin lagi mikirin, bisa ndak ya, kalau dibikin sendiri juga? heee)
Mulailah Ayah mensurvey beberapa kanopi rumah-rumah tetangga untuk mendapatan Ide cara pengerjaan, bahan dan model yang diinginkan. Selain survey kanopi, juga survey ke toko material pembuatan kanopi (tentu memilih toko yang paling murah ;).
Tidak hanya itu, Ayah juga bertanya langsung ke pakar tukang pembuat kanopi, yang memang sehari-hari menerim order pembuatan kanopi.
Setelah menimbang banyak hal, terutama dari sisi biaya yang dirasa selisihnya cukup banyak, akhirnya DIPUTUSKAN untuk membuat kanopi sendiri.
1. Membeli bahan kanopi (baja ringan, reng, spandek, mur-baut)
2. Membeli beberapa alat (Seperti sarung tangan, gunting potong, tang, palu karet, mata bor)
(sebagian banyak meminjam punya tetangga seperti tangga lipat, bor, tang potong baja ringan, siku, pengukur sudut, gulungan kabel, gergaji).
Cerita kenapa Ayah sampai mencoba untuk membuat kanopi sendiri sebenarnya bermula dari sini.... Sepulang kerja melihat ada tetangga di perumahan (Ayah Nabil) Blok B No.2 sedang membuat kanopi - Ayah tidak tahu kalau yang mengerjakan adalah empunya rumah :D - trus Ayah nanya ke Bunda "(Blok B No.2) ngerjain kanopinya belum selesai yah Bun?"
"Belum Ayah. Kanopinya baru dikerjain kalau ayah Nabil pulang kerja, maleman gitu"
"Berarti dikerjain sendiri?"
"Iya...."
Dari situlah Ayah mulai mangut-mangut (mungkin lagi mikirin, bisa ndak ya, kalau dibikin sendiri juga? heee)
Mulailah Ayah mensurvey beberapa kanopi rumah-rumah tetangga untuk mendapatan Ide cara pengerjaan, bahan dan model yang diinginkan. Selain survey kanopi, juga survey ke toko material pembuatan kanopi (tentu memilih toko yang paling murah ;).
Tidak hanya itu, Ayah juga bertanya langsung ke pakar tukang pembuat kanopi, yang memang sehari-hari menerim order pembuatan kanopi.
Setelah menimbang banyak hal, terutama dari sisi biaya yang dirasa selisihnya cukup banyak, akhirnya DIPUTUSKAN untuk membuat kanopi sendiri.
Tidak memburu waktu cepat-cepat selesai. Tapi kalau BISA jadi lebih cepat.... Alhamdulillah :D.
Dikerjakannya sabtu-minggu aja dan sesempatnya (gak fullday juga siy, karena 2x weekend seharian di hari sabtu berkunjung ke rumah saudara jauh).Selain itu juga menghadapi kendala hujan deras dan hanya bisa dikerjakan sekitar 3 jam dalam sehari.
Dikerjakannya sabtu-minggu aja dan sesempatnya (gak fullday juga siy, karena 2x weekend seharian di hari sabtu berkunjung ke rumah saudara jauh).Selain itu juga menghadapi kendala hujan deras dan hanya bisa dikerjakan sekitar 3 jam dalam sehari.
Sempat terjadi insiden jari tengah ayah ketusuk baja ringan sampai berdarah-darah (*lebay) karena tidak memakai sarung tangan.
Setelah kejadian itu, baru deh, sarung tangannya dipakai terus. Pemakaian openutup badan harus benar-benar diperhatikan, karena baja ringan dan spandek sisi pinggirnya tajam.
Setelah kejadian itu, baru deh, sarung tangannya dipakai terus. Pemakaian openutup badan harus benar-benar diperhatikan, karena baja ringan dan spandek sisi pinggirnya tajam.
Ini dia daftar belanjaannya:
1. Baja ringan: 18 batang x @Rp63.000,- = Rp 1.134.000,-
2. Reng: 4 batang x @Rp30.000,- = Rp 120.000,-
3. Spandek:
ukuran 4m, 3 lembar x @Rp196.000,- = Rp 588.000,
ukuran 3m, 1 lembar x @Rp147.000,-
ukuran 2m, 2 lembar x @Rp98.000,- = Rp 196.000,-
ukuran 4m, 3 lembar x @Rp196.000,- = Rp 588.000,
ukuran 3m, 1 lembar x @Rp147.000,-
ukuran 2m, 2 lembar x @Rp98.000,- = Rp 196.000,-
4. Mur 4 bungkus x @Rp15.000,-= Rp60.000,-
5. Paku roofig 5cm, 100 buah x @Rp500,- = Rp50.000,-
5. Paku roofig 5cm, 100 buah x @Rp500,- = Rp50.000,-
Alhamdulillahhirabbil alaamiin...
Selesai juga.
Rumah jadi adem, kendaraan juga terbebas dari panas dan hujan.
Ternyata masih ada sisa bahan yang bisa digunakan untuk mini kanopi lagi =)
Ini dia.... dipasang di teras rumahnya Bu'Ti
Sekali lagi Alhamdulillah...
Jadi kanopinya. dikerjakan Ayah sendiri tentunya sangat memuaskan.
Selesai juga.
Rumah jadi adem, kendaraan juga terbebas dari panas dan hujan.
Ternyata masih ada sisa bahan yang bisa digunakan untuk mini kanopi lagi =)
Ini dia.... dipasang di teras rumahnya Bu'Ti
Sekali lagi Alhamdulillah...
Jadi kanopinya. dikerjakan Ayah sendiri tentunya sangat memuaskan.
Arinday Atha
Sms, Wechat : 081575004141
PIN BB : 277AD653
Wednesday, March 04, 2015
Menjadi orang tua masa kini Wajib terus belajar
Menjadi orang tua masa kini Wajib terus belajar!
Belajar apa saja...
Terutama untuk perkembangan buah hati
Agar kelak menjadi generasi yang berwawasan luas, familiar dengan aneka teknologi dan mudah menyesuaikan dengan lingkungan dan perkembangan zaman.
Dan yang paling utama, adalah menjadi generasi yang akhlakul karimah. Aamiin.
Arinday Atha
Sms, Wechat : 081575004141
PIN BB : 277AD653
Tuesday, March 03, 2015
Gowes yuk gowes
Sabtu, 1 Maret 2015
Start pukul 06.30, Finish pukul 10.30
Rute: Relife Greenville, Cikarageman, Harvest, Metland, Giant transyogi, Metland lagi, Relife
Bertiga aja
Ayah, Atha dan Bunda...
Bunda naik sepedanya gak berani macem-macem, tetep mengikuti "jalan yang benar" alias jalan yang halus/ sudah diasphalt hahaaa.... cos baru dihajar track pertama jalan yang berlumpur sudah jatuh terpeleset duluan... (diketawain sama orang yang lagi mancing hihi...).
Jdilah sampau finish baju dan sepeda belepotan.
Beda banget sama Ayah yang naik sepedanya sengaja naik turun gundukan dan sengaja melewati jalan yang buat bunda itu "berbahaya", biarpun begitu, sampai finish pakaian, sepatu dan sepeda ayah tetap bersih.
Beda lagi dengan Athaya yang "anteng" diboncengin Ayah.
Happy banget, sesekali teriak kegirangan saat ayah mengayuh sepedanya naik-turun.
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)