Monday, March 30, 2015

Menjadi IRT juga tetap bisa produktif

Adakalanya...
Kita (Ibu Rumah Tangga) yang awalnya meniti karir dari semenjak singgel sampai menikah dan karena alasan tertentu berhenti bekerja hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga sejati mengalami kondisi 'ambang batas' kebosanan atau jenuh dengan aktivitas sehari-hari yang hampir monoton itu-itu saja.
Kedengarannya lebay/ berlebihan ya... Hee...

Apakah Anda juga pernah mengalami hal seperti yang juga pernah saya rasakan?
'Ngaku hayooo....?!!'

Jika keputusan Anda sudah bulat untuk menjadi ibu rumah tangga sejati, entah itu karena suatu pilihan atau keadaan yang 'memaksa' harus menjadi IRT sejati maka sebaiknya hal itu menjadi sesuatu yang wajib disyukuri. Ambil hikmahnya dan sisi baik/positifnya agar hati menjadi tenang dan tidak menggerutui 'kejenuhan' yang melanda.
Walaupun kita menjadi ibu rumah tangga sejati, tidak berarti kita tidak dapat produktif.
Produktif tidak 'melulu' diukur dari keberhasilan menghasilkan materi, tapi bisa juga produktif dalam hal; menyelesaikan dengan tuntas pekerjaan rumah tangga (yang berarti menghemat biaya dibanding jika pekerjaan dilakukan oleh asisten rumah tangga), mengurus/memenuhi kebutuhan anak seperti menemaninya belajar, bermain (yang berarti menghemat biaya jika mengurus anak dilakukan oleh pengasuh/Babbysitter, menghemat biaya jika anak belajar dengan guru privat) atau juga produktif untuk keluarga besar/saudara dan lingkungan sekitar seperti membantu/menolong saudara/tetangga, menjadi pengurus PKK dan lain-lain. Selain menambah nilai untuk diri sendiri juga dapat menambah wawasan dengan orang lain atau lingkungan sekitar.


Ibu rumah tangga yang ingin tetap produktif dan menghasilkan dapat dilakukan melalui:
1. Merintis usaha dari rumah (seperti berjualan/menerima pesanan kue)
2. Membuka usaha jasa dari rumah (seperti membuka cabang laundry)
3. Membuka online shop (seperti berjualan baju branded dan menjualnya lewat internet/media sosial)
4. Membuka les privat (mengaji/ pelajaran sekolah)
Dan... Masih banyak lagi.


Dalam menjalankan usaha 'produktifnya' tentu seorang Ibu Rumah Tangga tetap harus menjalankan kewajiban utamanya terlebih dahulu. Jangan sampai karena kita terlalu sibuk mengurus 'usaha' pekerjaan utama justru di 'asistenkan'. Hal itu bisa seperti 'tambal sulam'. Misalnya karena kita terlalu capek menerima orderan kue (misal menghasilkan keuntungan Rp50.000,- sehari), pekerjaan rumah tangga diserahkan ke asisten dengan membayarnya Rp50.000,-/ hari. Tentunya secara angka yang kita dapat = 0. Belum dengan resiko kecapekan sehingga setelahnya kita melalaikan kewajiban mengurus anak dan suami.

Lain halnya jika usaha yang kita lakoni sudah berkembang tentu akan membutuhkan tambahan tenaga.
Hal tersebut bisa juga berarti, kita ikut memberdayakan orang lain/ lingkungan sekitar.



*ditulis mengalir saja, mohon maaf kalau terdapat kesalahan
Arinday Atha
Sms, Wechat : 081575004141
PIN BB : 277AD653
http://arinday-atha.blogspot.com
http://buku-second.blogspot.com




No comments: