“Jangan lupa bawa helm, ya jeng…”
“Lhoh!! Kan Cuma kekampus tok, mbak!!...ngapain pake helm”.
Perdebatan itu sering kali terjadi antara saya dengan teman kost saya, entah saat mau keluar beli makan, kekampus atau sekedar ke indomaret yang jaraknya tidak ada dua ratus meter dan tidak melintasi jalan raya pula. Yah…jauh-dekat pake helm! (titik!).
Itu sudah tertanam kuat dalam kepala saya. Buat orang lain yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya kepala tepat menyentuh ban mobil pada saat yang tidak diinginkan, itu memang tidak akan membawa pengaruh apa-apa. Tidak bagi saya!
Hal yang mungkin tidak akan pernah terlupakan, atau bisa jadi seumur hidup saya, adalah sewaktu mengendarai motor didaerah Pasar Gumiwang, Banjarnegara. Saya sering mengendarai motor dengan kecepatan 90km/jam. Lumayan cepat memang (makanya Bapak saya tidak pernah lupa untuk mengulang kata-kata “temenan lho!!…numpak motor aja banter-banter” (beneran loh!!… Naik motor jangan kencang-kencang)) sampai tiga kali dengan mimik yang lebih serius dari sekedar mengingatkan keponakan saya yang masih kecil yang mencuri-curi kesempatan untuk bisa memanjat pohon rambutan disamping rumah. Gara-gara saya mengendarai motor dengan cukup kencang dibelakang bus, dimana tahu-tahu bus berhenti mendadak untuk menaikkan penumpang, saya sontak mengerem tangan dan kaki, yang saya masih bisa dengar adalah suara “ciiiiitt….”dan gubrak!!! Ternyata adalah dari motor saya sendiri. Entah apa perasaan saya waktu itu, yang bikin saya shock posisi saya sudah tertelungkup mencium aspal dibawah bamper mobil.
Kejadian itu sempat membuat heboh pasar, sampai saya menutup muka tak berani melihat berapa banyak orang yang mengerumuni saya waktu itu. Saya tidak henti-hentinya mengucap syukur, karena saya masih terselamatkan. Saya sunggguh-sungguh tidak bisa membayangkan apa jadinya, jika kepala saya benar-benar terinjak ban mobil karena helm yang saya pakai tidak memenuhi standar keamanan.
Alhamdulillah…kepala saya masih utuh
No comments:
Post a Comment